GpW0BSGoGSrlGSz0TpY5TpM7
Light Dark
Sekolah Ramah Digital Jadi Fokus, PGRI Mempawah Gaungkan Perang Lawan Radikalisme dan Adiksi Gawai

Sekolah Ramah Digital Jadi Fokus, PGRI Mempawah Gaungkan Perang Lawan Radikalisme dan Adiksi Gawai

×

 

Caption:
PGRI Kabupaten Mempawah bersama Pemerintah Kabupaten Mempawah menggelar Dialog Interaktif dan Sosialisasi Implementasi PP TUNAS serta Permenkomdigi Nomor 9 Tahun 2026 di Gedung PGRI Kabupaten Mempawah, Jalan Chandramidi, Kecamatan Mempawah Hilir, Senin (11/5/2026). Foto. Ist (SK). 
MEMPAWAH, KALBAR SK – Isu keamanan digital di lingkungan sekolah menjadi perhatian serius PGRI Kabupaten Mempawah bersama Pemerintah Kabupaten Mempawah. Melalui Dialog Interaktif dan Sosialisasi Implementasi PP TUNAS serta Permenkomdigi Nomor 9 Tahun 2026, berbagai pihak sepakat membangun ekosistem sekolah yang aman, sehat, dan ramah digital.

Kegiatan yang digelar di Gedung PGRI Kabupaten Mempawah, Jalan Chandramidi, Kecamatan Mempawah Hilir, Senin (11/5/2026) itu mengusung tema “Membangun Ekosistem Digital Aman dan Sehat di Sekolah Se-Kabupaten Mempawah.”

Tak hanya membahas literasi digital, forum ini juga menyoroti ancaman serius di ruang siber terhadap pelajar, mulai dari adiksi gawai, perundungan siber, pornografi, hingga infiltrasi paham radikalisme dan ekstremisme melalui media sosial maupun gim daring.

Sekitar 100 peserta yang terdiri dari kepala sekolah, guru, dan komite sekolah tingkat SD dan SMP dari sembilan kecamatan hadir mengikuti kegiatan tersebut. Turut hadir unsur pemerintah daerah, organisasi pendidikan, hingga aparat keamanan.

Dalam sambutannya, Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan Kabupaten Mempawah Agus Sugiarto menegaskan dunia pendidikan tidak boleh tertinggal menghadapi perubahan era digital.

“PP TUNAS dan Permenkomdigi Nomor 9 Tahun 2026 harus menjadi momentum pembenahan pendidikan digital di sekolah. Kita tidak boleh gagap teknologi maupun regulasi,” ujarnya.

Salah satu poin penting dalam kegiatan itu adalah deklarasi bersama menuju sekolah ramah digital aman dan sehat. Seluruh peserta berkomitmen menjadikan sekolah sebagai zona integritas digital yang bebas dari konten negatif, judi online, kekerasan siber, hingga pengaruh ideologi ekstrem.

Kepala Dinas Kominfo Kabupaten Mempawah, Mohammad Iqbal Suparta, menekankan pentingnya keterlibatan guru dalam mengawasi aktivitas digital siswa, termasuk pembatasan penggunaan media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun.

Menurutnya, ancaman digital terhadap pelajar kini semakin kompleks. Ia menyebut adanya ancaman “4K”, yakni kontak berbahaya, konten negatif, kecanduan gawai, serta gangguan kesehatan fisik dan mental akibat penggunaan teknologi secara berlebihan.

Sementara itu, Ipda Yulius Sugiyanto dari Densus 88 AT Polri mengingatkan bahwa kelompok radikal kini aktif menyasar generasi muda melalui algoritma media sosial, video viral, hingga permainan daring.

“Anak-anak dan remaja menjadi kelompok paling rentan karena terus terpapar konten yang berulang melalui sistem algoritma digital atau echo chamber,” jelasnya.

Di sisi lain, Ketua PD ABKIN Kalbar Tri Mega Ralasari menilai pendekatan psikologis sangat penting dalam menghadapi fenomena adiksi digital di kalangan pelajar.

Menurutnya, sekolah tidak cukup hanya menerapkan aturan, tetapi juga harus menjadi ruang aman yang mampu memahami kondisi mental dan emosional siswa di tengah derasnya perkembangan teknologi dan AI.

Melalui kegiatan ini, PGRI Mempawah berharap sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar akademik, tetapi juga benteng utama dalam melindungi generasi muda dari ancaman dunia digital modern.

Dani 74

0Komentar

SPONSOR